Mari Budayakan Menulis

Mari Budayakan Menulis

Bangsa Indonesia memiliki budaya lisan yang sangat kuat. Dalam kehidupan sehari-hari kita bisa melihat, banyak orang bercakap-cakap atau berdiskusi dan bahkan di pos ronda bapak-bapak bisa asyik ngobrol sepanjang malam gak ada habisnya bahan yang dibicarakan. Demikian pula anak-anak di sekolah, sangat suka mendengarkan cerita-cerita dari guru sejarah, guru agama dan lain-lainnya. Intinya bahwa semua aktivitas lebih banyak ke hal-hal yang bersifat lisan atau berbicara.

Sementara budaya menulis di kita ini sangat rendah. Seorang dosen, ketika mengajar, tidak perlu banyak tulisan, cukup satu atau dua baris judul, sudah bisa diceritakan panjang lebar dan berjam-jam. Namun ketika dosen tersebut diminta untuk menulis karya dalam bentuk buku untuk pembelajaran, maka begitu sulitnya dosen tersebut bisa menyelesaikan satu buku. Apalagi mahasiswa, banyak mahasiswa terkendala karena menulis skripsi.

Mestinya sejak kecil budaya menulis ini diajarkan ke anak-anak sehingga keterampilan menulis juga sama dengan keterampilan berbicara. Ketika harus menulis, maka bisa selancar ketika dia berbicara. Sama seperti anak kecil yang sedang belajar berbicara, membutuhkan waktu dan kesabaran orang tua mengajarinya. Mesitnya sama juga bahwa para guru di sekolah mau mengajarinya anak-anak menjadi terampil menulis.

Menulis memang sama dengan berbicara, sama-sama keterampilan. Tidak perlu berbakat untuk menulis. Siapa saja bisa menulis, apa saja bisa ditulis dan kapan saja bisa menulis. Maka kunci belajar menulis adalah menulis, menulis dan menulis. Sama saat kita belajar berbicara, maka kuncinya adalah bicara, bicara dan bicara terus hingga semua kosa kata bisa kita ucapkan. Demikian juga kita berfikir apa saja bisa langsung kita tulis.

Yuk biasakan kita menulis, agar peristiwa-peristiwa penting, keahlian-keahlian yang kita miliki, atau ilmu apa saja yang perna kita pelajar, dapat kita tulis dan akan memberikan manfaat bagi siapa saja yang membacanya.

Sumber gambar: Kompas.com